Wanua.id – Pasca gempa tektonik berkekuatan Mw 7,6 yang mengguncang tenggara Kota Bitung pada awal April 2026, Tim Pengabdian Masyarakat dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung bergerak cepat melakukan survei lapangan di wilayah Sulawesi Utara. Langkah strategis yang didukung oleh Asosiasi Ahli Rekayasa Kegempaan Indonesia ini bertujuan untuk memotret secara langsung dampak kerusakan sekaligus menggali praktik baik dalam kesiapsiagaan masyarakat setempat yang terbukti cukup tangguh menghadapi ancaman tsunami.
Dr. Karina Aprilia Sujatmiko selaku anggota tim peneliti menyoroti betapa krusialnya pemahaman warga Sulawesi Utara yang secara spontan menjauh dari bibir pantai saat merasakan guncangan lama. Kearifan lokal yang telah dipraktikkan masyarakat di beberapa lokasi penelitian ini dinilai menjadi modal berharga serta pembelajaran penting bagi penguatan sistem mitigasi di berbagai daerah lain di seluruh Indonesia.
Selain mengamati aspek sosial dan kesadaran warga, tim juga mendokumentasikan detail kerusakan struktural pada berbagai tipe bangunan di lapangan secara mendalam. Hal ini menjadi perhatian utama karena selama ini banyak model estimasi kerusakan nasional yang dinilai masih bersifat teoretis dan belum sepenuhnya mampu mencerminkan realitas serta karakteristik bangunan lokal di daerah-daerah terdampak.
Menurut Dr. Socio Jiwapatria, data akurat yang dikumpulkan dari Sulawesi Utara ini akan menjadi fondasi penting dalam menyusun strategi mitigasi yang lebih realistis dan presisi. Dengan basis data yang lebih kuat, para peneliti berharap ke depannya kemampuan dalam memprediksi dampak bencana serta kerentanan bangunan di masa depan dapat ditingkatkan guna meminimalkan risiko kerugian fisik maupun jiwa.
Dalam proses pengumpulan data tersebut, koordinasi erat dilakukan bersama Kepala BPBD Provinsi Sulawesi Utara, Adolf H. Tamengkel, serta jajaran BPBD di tingkat kabupaten dan kota. Kolaborasi teknis ini mencakup pemetaan lokasi kerusakan di wilayah Manado, Bitung, Minahasa, hingga Minahasa Utara untuk memastikan bahwa setiap temuan di lapangan dapat terintegrasi dengan kebijakan penanggulangan bencana daerah.
Salah satu titik fokus dokumentasi berada di Desa Kiniar, Kabupaten Minahasa, di mana tim didampingi oleh Kabid BPBD Minahasa, Joy Ondang, untuk mempelajari perilaku bangunan rumah tinggal pasca gempa secara langsung. Melalui upaya kolektif ini, ITB berupaya menjembatani hasil riset akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan guna membangun jaringan mitigasi yang lebih kokoh dan berkelanjutan di tanah air.
