Menyerahkan Buku ke Dee Lestari: Sebuah Momen Hangat di Panggung Literasi Sulut 2026

oleh -13 Dilihat

WANUA.ID — Menjadi bagian dari Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara memberikan kesan tersendiri bagi kami di Penerbit Yayasan Bina Lentera Insan (YBLI). Namun, ada satu momen yang rasanya paling berkesan dan sulit untuk dilupakan: berdiri di sela-sela sesi talkshow utama untuk menyerahkan buku secara langsung kepada salah satu penulis dan musisi paling inspiratif di Indonesia, Dee Lestari.

Bagi pencinta buku di tanah air, nama Dee Lestari tentu sudah tidak asing lagi. Karya-karyanya mulai dari tetralogi Supernova, Perahu Kertas, hingga Rectoverso telah menemani, menghidupkan imajinasi, dan membentuk lanskap literasi modern Indonesia. Sebagai perwakilan dari Penerbit YBLI, berdiri di dekatnya, bertegur sapa, dan menyerahkan karya kami secara langsung sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya tentu menjadi sebuah kehormatan yang luar biasa.

Momen itu terasa semakin bermakna karena saya, HK Repi, tidak sendirian melangkah ke hadapan panggung. Saya didampingi oleh Standius Bara Prima Lumbaa dan Faradila Bachmid, membawa misi sederhana namun tulus: mengapresiasi seorang figur yang telah menyalakan api kecintaan membaca bagi jutaan orang.

Saat buku tersebut berpindah tangan dan senyum ramah mengembang dari Dee Lestari, riuh tepuk tangan penonton yang memadati area talkshow seketika memenuhi ruangan. Suasana yang awalnya formal berubah menjadi begitu hangat dan akrab.

“Bagi kami di YBLI, pengalaman ini bukan sekadar seremoni penyerahan kenang-kenangan. Lebih dari itu, momen ini menjadi suntikan semangat dan energi baru,” ujar HK Repi usai kegiatan.

Ia juga menambahkan bahwa kesempatan berharga ini membawa makna yang mendalam bagi perjalanan literasi di daerah. “Berinteraksi langsung dengan tokoh literasi nasional membuktikan bahwa penulis lokal tidak boleh menyurutkan mimpi untuk terus berkontribusi memajukan dunia literasi,” pungkasnya.

Dari panggung Festival Literasi Sulut 2026, kami pulang dengan keyakinan baru: bahwa langkah kecil YBLI dalam merangkul penulis lokal dan menyediakan ruang publikasi berkualitas adalah bagian dari perjalanan besar untuk terus menghidupkan ekosistem literasi Indonesia.