Wanua.id — Tempurung kelapa yang kerap berakhir di tempat sampah kini disulap menjadi produk bernilai jual di tangan kelompok disabilitas Bitung. Melalui program Pusat Ajar Disabilitas Unggul (PADU) yang digagas Yayasan Bina Lentera Insan, sebanyak sembilan peserta didik menjalani pelatihan intensif selama sepekan untuk mengolah limbah batok kelapa menjadi berbagai kreasi unik, mulai dari gantungan kunci hingga aksesori bernilai estetika tinggi.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan berdaya secara ekonomi. Guna memastikan pendampingan berjalan optimal dan ramah disabilitas, sepekan sebelum pelatihan peserta dimulai, Yayasan Bina Lentera Insan telah menggelar Training of Trainer (ToT) bagi para calon fasilitator.
Perwakilan Yayasan Bina Lentera Insan, Clarissa, menekankan bahwa program ini dirancang sebagai ekosistem pemberdayaan jangka panjang yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Kegiatan ini tidak berhenti di sini. Nanti akan dilanjutkan dengan pelatihan marketing online, pendampingan perizinan usaha, serta skema produksi berkelanjutan,” ungkap Clarissa.
Program inovatif ini berhasil terwujud berkat sinergi dan dukungan penuh dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Integrated Terminal Bitung dan Komunitas Tuli Peduli Bitung (KALEB). Melalui kolaborasi ini, program PADU tak sekadar memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka jalan bagi kelompok disabilitas untuk menembus pasar digital dan membangun usaha yang legal serta mandiri.






