Wanua.id — Upaya pencegahan anemia di kalangan anak dan remaja kembali diperkuat melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar di Balai Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe. Program edukasi bertema “Pemanfaatan Daun Kelor dalam Penanggulangan Anemia Defisiensi Zat Besi” ini dipimpin oleh Imam Jayanto dari Universitas Sam Ratulangi dengan dukungan tenaga kesehatan dari Puskesmas Tatelu.
Kegiatan yang dihadiri puluhan remaja ini digagas sebagai respon terhadap tingginya prevalensi anemia di wilayah tersebut. Berdasarkan data yang dipaparkan tim, sekitar 35 persen wanita usia subur di Tatelu mengalami anemia ringan hingga sedang. Kondisi ini dinilai memerlukan intervensi edukatif yang tepat dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Dalam pemaparan materi, tim pengabdian menjelaskan kandungan gizi daun kelor yang kaya zat besi, vitamin A, dan kalsium. Mereka menekankan bahwa kelor merupakan pangan lokal yang murah, mudah didapat, dan sangat potensial menjadi solusi alami untuk mencegah anemia. Peserta juga diberikan brosur edukatif dan kesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan oleh tim Puskesmas.
Antusiasme remaja terlihat sepanjang kegiatan. Beberapa dari mereka aktif bertanya, termasuk mengenai manfaat daun kelor bagi remaja putri yang sedang menstruasi. Tim menjawab dengan bahasa yang mudah dipahami agar para peserta benar-benar memahami pentingnya pemenuhan zat besi dari sumber alami.
Tak hanya teori, tim juga memberikan contoh cara mengolah daun kelor, mulai dari dikeringkan, diseduh, dijadikan sayuran, hingga informasi mengenai sediaan herbal siap konsumsi yang kini sudah tersedia. Edukasi ini diharapkan mendorong remaja untuk mengurangi ketergantungan pada suplemen dan lebih memanfaatkan bahan pangan lokal yang berkelanjutan.
Kepala Desa Tatelu, Rossiena Anastasya Angkow, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menegaskan dukungan penuh pemerintah desa untuk menggerakkan remaja lebih peduli pada kesehatan, khususnya anemia. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin agar masyarakat semakin mengenal pangan bergizi yang mudah ditemukan di lingkungan sendiri,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa merupakan contoh baik dalam membangun solusi berbasis kearifan lokal untuk mengatasi masalah gizi. Antusiasme remaja selama kegiatan menjadi sinyal bahwa edukasi semacam ini masih sangat dibutuhkan, terutama di wilayah pedesaan yang punya banyak sumber daya alam namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Kegiatan ini ditutup dengan ajakan tim pengabdian agar masyarakat mulai membudidayakan kelor di pekarangan rumah sebagai langkah nyata menekan angka anemia di wilayah kerja Puskesmas Tatelu.






