Membaca Ulang Pemikiran Tjokroaminoto, Menyalakan Kembali Api Kebangsaan dari Manado

oleh -234 Dilihat
sumber: RRI

Wanua.id — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan nilai di kalangan generasi muda, semangat kebangsaan kembali disuarakan dari Kota Manado. Melalui dialog bertajuk “Islam, Kebangsaan, dan Keadilan Sosial”, Syarikat Islam (SI) Manado bersama Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) PC Manado mengajak peserta untuk menelusuri kembali gagasan Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto — tokoh besar yang dikenal sebagai Guru Para Pendiri Bangsa.

Dialog yang digelar di Aula Kantor DPD RI Tikala itu menghadirkan empat narasumber dengan latar beragam: Prof. Dr. Ir. Grevo S. Gerung, MSc (Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pendidikan), Dr. Burhan Niode, M.Si (Akademisi), Reiner Ointoe (Budayawan), dan Drs. Mahyudin Damis, M.Hum (Antropolog Sosial). Moderator kegiatan ini adalah Faradilla Bachmid, S.Psi, yang juga menjabat Ketua KOPMI PMI Sulut.

Dalam suasana yang hangat namun penuh gagasan, diskusi mengalir dari refleksi sejarah hingga tantangan zaman. Dr. Ridwan Lasabuda, M.Si, Ketua Syarikat Islam Kota Manado, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengenang tokoh masa lalu, tetapi upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang relevan bagi generasi kini.

“Tjokroaminoto tidak hanya berbicara soal umat, tapi juga tentang bangsa yang adil dan berdaulat. Kita ingin anak muda belajar berpikir kritis, berani, dan peduli seperti beliau,” ujar Ridwan.

Menurut Ridwan, Syarikat Islam Manado kini berfokus pada dua bidang utama: pendidikan dan ekonomi. Keduanya dianggap sebagai pondasi penting dalam membangun kesadaran kebangsaan yang kokoh, terutama di tengah arus globalisasi yang kerap membuat generasi muda kehilangan arah dan identitas.

Dalam dialog tersebut, para narasumber mengulas sisi lain dari Tjokroaminoto — bukan hanya sebagai pemimpin Sarekat Islam, tetapi juga sebagai pemikir sosial yang mendobrak ketidakadilan. Reiner Ointoe, misalnya, menyoroti bagaimana gagasan keadilan sosial yang diperjuangkan Tjokroaminoto masih menjadi PR besar bangsa ini.

“Kita merdeka secara politik, tapi masih tertinggal secara ekonomi. Di situ letak relevansi pemikiran Tjokroaminoto hari ini,” ungkap Reiner.

Sementara Prof. Grevo Gerung mengaitkan semangat kebangsaan Tjokroaminoto dengan pentingnya transformasi pendidikan.

“Pendidikan harus melahirkan generasi yang punya kesadaran sosial dan moral. Itulah yang dulu diperjuangkan Tjokroaminoto,” ujarnya.

Dialog itu pun berakhir dengan refleksi: bahwa bangsa yang besar bukan hanya yang mengenang pahlawannya, tapi yang mampu menghidupkan kembali api perjuangan mereka di tengah tantangan zaman yang baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *