RJI Sulut Tekankan Etika dan Tantangan AI dalam Pengelolaan Jurnal Ilmiah

oleh -67 Dilihat

Wanua.id – Relawan Jurnal Ilmiah (RJI) Pengda Sulawesi Utara menyoroti tantangan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pengelolaan dan publikasi jurnal ilmiah sebagai isu krusial yang perlu disikapi secara bijak oleh pengelola jurnal. Isu ini mengemuka dalam kegiatan pendampingan penguatan kapasitas pengelolaan jurnal ilmiah yang diikuti oleh Tim Pengelola Jurnal Yayasan Bina Lentera Insan (YBLI), Senin, 26 Januari 2026.

Ketua Relawan Jurnal Ilmiah Pengda Sulawesi Utara, Faradila Hasan, mengawali sesi pendampingan dengan membahas tantangan dan implikasi penggunaan AI dalam proses penulisan dan pengelolaan artikel ilmiah. Faradila menekankan bahwa kehadiran AI tidak bisa dihindari, namun harus dikelola dalam kerangka etika publikasi, transparansi, dan tanggung jawab akademik.

Menurut Faradila, pengelola jurnal memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pemanfaatan AI oleh penulis tidak mengaburkan orisinalitas karya ilmiah, integritas data, serta proses berpikir kritis penulis. Karena itu, penguatan kapasitas editor dan reviewer menjadi kunci dalam menghadapi dinamika baru dunia publikasi ilmiah.

Dari sudut pandang pengelola jurnal, pendampingan ini dinilai relevan dan kontekstual dengan tantangan yang dihadapi saat ini. Sandra Asaloei, selaku pengelola e-journal Yayasan Bina Lentera Insan, menyampaikan bahwa diskusi mengenai AI membuka perspektif baru bagi tim pengelola jurnal YBLI. “Isu AI ini sangat dekat dengan realitas pengelolaan jurnal saat ini. Kami jadi lebih memahami batasan dan tanggung jawab pengelola jurnal dalam menyikapi penggunaan AI oleh penulis, tanpa langsung menutup ruang inovasi,” ujar Sandra.

Sandra menambahkan, pendampingan dari RJI Sulawesi Utara tidak hanya memberikan pemahaman teknis, tetapi juga memperkuat kesadaran etis dalam pengelolaan jurnal. “Pendampingan ini membantu kami menata kembali sistem editorial agar lebih tertib, transparan, dan sesuai dengan prinsip etika publikasi ilmiah,” katanya.

Relawan Jurnal Ilmiah Sulawesi Utara memandang keterlibatan yayasan berbasis pemberdayaan masyarakat seperti YBLI sebagai bagian penting dalam memperluas ekosistem publikasi ilmiah yang inklusif. Jurnal tidak hanya menjadi milik akademisi kampus, tetapi juga ruang dokumentasi pengetahuan yang lahir dari praktik pengabdian, riset terapan, dan kerja-kerja komunitas.

Melalui pendampingan ini, RJI Sulawesi Utara berharap pengelola jurnal YBLI mampu merespons tantangan perkembangan teknologi, termasuk AI, secara kritis dan bertanggung jawab, sekaligus menjaga mutu dan kredibilitas publikasi ilmiah di tingkat lokal maupun nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *