Lonjakan Kasus Chikungunya di China, WHO Peringatkan Risiko Penyebaran Global

oleh -162 Dilihat

Wanua.id – Lonjakan kasus chikungunya di wilayah selatan China memicu perhatian serius Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Lebih dari 7.700 kasus tercatat di Provinsi Guangdong dalam beberapa pekan terakhir, dengan mayoritas berasal dari kota industri Foshan.

Otoritas China bergerak cepat dengan melakukan penyemprotan insektisida massal, pemeriksaan rumah warga untuk mencari sarang nyamuk, hingga memasang kelambu di fasilitas medis khusus pasien chikungunya. Di beberapa distrik, warga yang menolak kerja sama dalam pengendalian nyamuk dilaporkan mengalami pemutusan aliran listrik.

Chikungunya adalah penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejalanya meliputi demam tinggi dan nyeri sendi hebat yang bisa bertahan berbulan-bulan. Meski jarang mematikan, penyakit ini sangat melemahkan penderitanya. WHO mencatat virus ini telah menyebar di 119 negara dan berpotensi mengancam 5,6 miliar orang di seluruh dunia.

Menurut laporan otoritas Guangdong, hanya dalam kurun 27 Juli hingga 2 Agustus, Foshan mencatat 2.770 kasus baru. Kasus juga dilaporkan di Guangzhou dan Hong Kong. Meski laju infeksi mulai melambat, risiko penyebaran masih tinggi karena iklim yang mendukung perkembangbiakan nyamuk dan potensi impor kasus dari luar negeri.

WHO menilai pola penyebaran saat ini mirip wabah besar di Samudra Hindia tahun 2004–2005 yang menginfeksi lebih dari setengah juta orang. Sejak awal 2025, wabah besar juga terjadi di Reunion, Mayotte, dan Mauritius, bahkan di Reunion diperkirakan sepertiga penduduk telah terinfeksi.

Perubahan iklim menjadi faktor tambahan yang memperluas wilayah jangkauan nyamuk. WHO mengimbau masyarakat untuk menggunakan obat nyamuk, memasang kelambu, dan menghilangkan genangan air. Hingga kini, vaksin chikungunya belum tersedia secara luas dan penanganan difokuskan pada pereda gejala.

Pemerintah Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang hendak ke wilayah terdampak. WHO sendiri belum mengeluarkan larangan, namun menegaskan pentingnya kesiapsiagaan agar tidak kecolongan menghadapi potensi lonjakan kasus global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *